karena besok 17 agustus
biarkan masalah itu muncul di zamanku bukan di zaman setelahku agar anak-anakku dapat hidup dengan lebih baik.
mungkin kalimat yang sangat tepat untuk menggambarkan para pejuang dulu yang mau berpanas-panasan menunggu tentara musuh datang dan menyergapnya dengan taktik gerilya mereka, bertarung dengan sebilah bambu panjang yang runcing untuk menghadapi senjata penjajah yang bisa menyerang dengan jarak lebih jauh. Mungkin mereka capek bertarung, berjuang agar kita bisa seperti sekarang yang lebih bebas, lebih sejahtera dibandingkan saat semua hasil tanah air ini diambil oleh orang-orang yang mungkin matanya saja tidak hitam atau coklat.
perjuangan mereka berhasil membuat hidup kita seperti sekarang tapi apakah benar ini kondisi yang diinginkan mereka saat dulu mengangkat senjatanya? Apakah mereka menginginkan kita menjual hasil perkebunan kita untuk mendapatkan sukoy? Apakah mereka menginginkan kita untuk membiarkan tanah kita diacak-acak oleh perusahaan-perusahaan seperti exxon, chevron dan freeport? Apakah mereka menginginkan kita diam saat kesenian kita diambil oleh negara tetangga kita? apakah mereka menginginkan kita diam saat pendidikan kita berada pada titik terombang-ambing seperti se3karang?
Apakah mereka menginginkan kita…..
entahlah, hanya mereka yang dapat menjawabnya. kita hanya dapat berasumsi,,,
pertanyaannya, ketika kondisi kita seperti sekarang ini apa yang akan terjadi di zaman setelah kita? Apakah ini zaman yang akan kita tinggalkan untuk anak-anak kita? semua orang bebas menjawab apa yang mereka mau tetapi harus bertanggung jawab.
diam tidak pernah membawa perubahan.
“ditulis pada tanggal 16 agustus 2008, setelah menonton nagabonar jadi 2″